Cita
Perkaderan HMI
Apabila generasi muda merupakan inti pergerakan dari
keseluruhan masyarakat, maka mahasiswa merupakan kelompok paling penting dari
keseluruhan generasi muda. Sehingga tak heran bila Lafran Pane dan 13 anak muda
lainnya pada 5 Februari 1947 mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di
Yogyakarta. Lepas dari ekslusivisme pada pilihan idiom ‘mahasiswa’ sebagai
identitas organisasi, HMI sejak awal berdirinya ingin menggerakkan potensi
aktif mahasiswa yang merupakan inti dari generasi muda sebagai pilihan
kadernya.
Pilihan-pilihan pada idiom ‘himpunan’, ‘mahasiswa’, dan
‘Islam’ pada gilirannya melahirkan karakteristik pola gerak organisasi yang
khas. Idiom menjadi penanda dan cita dari landasan etis perjuangan. Darinya
kemudian diharapkan terbina kader muslim, intelektual, profesional. Lalu,
bagaimana mendudukkan cita perkaderan ini dalam Kongres yang bakal digelar HMI
akhir 2010 ini?
Cita Kader Muslim, Intelektual,
Profesional
Muslim merupakan identitas kader
HMI, terutama sebagai konsekuensi pilihan idiom ‘Islam’ dalam ‘Himpunan
Mahasiswa Islam’. Selain memberikan landasan gerak kader yang bersumber dari
nilai-nilai Islam—yang belakangan ditafsirkan dalam Nilai Dasar Perjuangan
(NDP)—dimensi gerak perjuangan dalam idiom ‘Islam’ lebih luas ketimbang dimensi
gerak perjuangan dalam pilihan idiom ‘Indonesia’. Bahkan nilai-nilai
nasionalisme—sebagai konsekuensi idiom ‘Indonesia’—sebenarnya telah menjadi
tradisi dan citra diri yang tidak dapat dipisahkan dari seorang Muslim. Tak
heran kalau kemudian dalam tafsir misi HMI dikenal tiga kata kunci orientasi
perjuangan: keislaman, kemahasiswaan, dan keindonesiaaan (kebangsaan).
Nilai-nilai intelektualisme tidak
dapat dipisahkan dari karakteristik gerakan HMI. Mahasiswa (dan kampus) telah
dikenal luas sebagai representasi bagi kebenaran ilmiah. Kebebasan mimbar
akademik, ilmiah, moralis, dan nonpartisan merupakan nilai utama
intelektualisme sebagai cita kader HMI. Kebebasan mimbar akademik merupakan hak
sekaligus kewajiban intelektual mahasiswa (dan kampus) untuk memberitakan
kebenaran (ilmiah). Kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan dalam
argumentasi teoritik sebagai cita ilmiah mahasiswa (dan kampus). Sehingga dalam
praksis geraknya, mahasiswa (dan kampus) konsisten dalam domain gerakan
ekstraparlementer yang moralis dan nonpartisan tetapi memiliki implikasi
politik yang besar.
Demikian juga dengan nilai
profesional. Meski berlabel sebagai organisasi mahasiswa, produk pengkaderan
HMI tidak terbatas oleh dimensi keanggotaan formal organisasi. Justru implikasi-implikasi
dari kelanjutan pengkaderan-kultural yang membawa nilai dan misi yang diimani
HMI sejatinya merupakan pengkaderan dalam menyiapkan kader terbaik bangsa.
HMI mengenal pengabdian kader dalam
pedoman pengkaderannya. Jalur-jalur akademik; profesi; birokrasi dan
pemerintahan; dunia usaha; sosial-politik; TNI/Kepolisian;
sosial-kemasyarakatan; LSM; kepemudaan; olahraga dan seni budaya dapat disebut
sebagai jalur-jalur pengabdian yang dapat dipilih kader berdasar minat, bakat,
dan kesempatannya. Sebagai jalur pengabdian kader, sudah tentu nilai-nilai yang
dibawa memungkinkan untuk terbukanya ruang adaptasi dan intepretasi ulang.
Seperti nilai moralis dan nonpartisan yang tidak serta merta membatasi seorang
kader dalam pengabdian masyarakatnya untuk terbatas dalam wilayah akademik.
Berpihak kepada kaum tertindas
(mustad’afin); cenderung pada kebenaran (hanif); berpikir merdeka, objektif,
rasional, dan kritis; progresif dan dinamis; demokratis, jujur dan adil dapat
disebut sebagai landasan etis perjuangan yang bersumber dari landasan
independensi HMI. Bukan hanya bagi HMI, landasan etis ini seperti telah menjadi
harga mati dari setiap pergerakan mahasiswa.
Mendamba Kader Muslim, Intelektual,
Profesional
Pilihan pada idiom ‘himpunan’ dalam
“Himpunan Mahasiswa Islam” harus diakui memberi warna dan corak gerakan HMI.
Terbuka dan tolerannya HMI terhadap ideologi aliran dan mazhab yang ada dalam
Islam membuka ruang bagi terfragmentasinya penghayatan dan pengamalan atas
Islam itu sendiri. Menghimpun mahasiswa Muslim lebih banyak dipahami sebagai
upaya merangkum potensi mahasiswa Muslim ketimbang merumuskan satu ‘mazhab’
atau pola berpikir dan bertindak yang meng-HMI meskipun ada upaya-upaya
merumuskan ‘mazhab’ HMI dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang sebenarnya
lebih banyak mengatur pola gerak HMI dalam wilayah-wilayah muamalah.
Dalam tipologi kualitas keberagamaan
seseorang dikenal idiom-idiom iman, Islam, dan ikhsan. Kualitas keberagamaan
seorang kader HMI tentu saja diharapkan berada dalam wilayah idiom ikhsan;
seorang mukhsin tidak sekedar secara atributif dan simbolik tercatat sebagai
seorang Muslim. Ikhsan menuntut pengamalan nilai-nilai Islam praksis dalam
setiap gerak perjuangan yang kelak dipertanggungjawabkan.
Pada idiom ‘intelektualisme’,
tantangan terbesar HMI (dan organisasi mahasiswa lain) adalah pragmatisme kader
dalam upaya memperoleh pemikiran-pemikiran cerdas sebagai indikator
intelektualitas. Kemalasan untuk menelaah secara teliti—karenanya disebut
masyarakat ilmiah—akan melahirkan kedangkalan analisis. Pola berpikir instan
dan plagiat, misalnya dalam bentuk-bentuk yang sederhana: mengutip tanpa
menyebut sumber merupakan musuh terbesar dalam intelektualisme dimana alur
pembacaan yang kemudian dilakukan menjadi sepotong-sepotong. Tradisi ‘diskusi
bermalam-malam dengan dilanjutkan aksi esok harinya’, misalnya, mulai jarang
ditemui dalam tradisi intelektual HMI. Kulturisasi HMI telah terkalahkan oleh
upaya-upaya strukturisasi HMI dalam penguasaan organ-organ intrauniversitas.
Yang terakhir ini telah menyita banyak waktu dan konsentrasi sehingga dunia
diskusif yang kultural celakanya mulai tak dinikmati. Bahkan gerakan
strukturisasi HMI lebih banyak trial and error tanpa landasan
ilmiah—teori-teori pergerakan sosial, misalnya.
Harapan pada profesionalisme
kader-pasca anggota seringkali menjadi bulan-bulanan kelompok kontra-HMI. Tidak
dapat dipungkiri, bahwa hampir di setiap jalur pengabdian, terdapat kader-pasca
anggota HMI. Personifikasi kader HMI seringkali masih dilakukan, seperti
menyebut Akbar Tandjung yang mantan Ketua Umum Partai Golkar dan mantan Ketua
DPR RI sebagai ‘mantan Ketua Umum PB HMI’. Di satu sisi, personifikasi kader
ini menjadi iklan gratis bagi HMI dalam perekrutan anggota baru. Memisahkan
secara tegas personifikasi kader-pasca anggota dengan profesionalisme bidang
pengabdiannya saat ini tentu merupakan usaha yang tidak mudah. Namun, hal ini
menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dijawab dalam perkaderan yang dimulai
saat kader tercatat sebagai anggota-biasa.
HMI Tidak Pernah Mati
Das sein dan das sollen—meminjam bahasa sosiologi—seringkali beriringan secara paralel; tanpa titik potong. Namun perjuangan tidak berhenti sampai hari ini, apalagi HMI dilahirkan untuk menjawab realitas yang tidak sesuai dengan idealitas zaman untuk waktu yang tidak terbatas. Beberapa pertanyaan besar memang harus dijawab HMI bagi kepentingan kontinuitas gerak organisasi. Hanya ada satu keyakinan bahwa HMI tidak pernah mati. Sakit, sekarat, dan kemudian bangkit lagi menjadi dinamika dari sebuah kehidupan. Meskipun HMI tidak pernah mati, kualitas hidupnya hari ini dan esok merupakan tanggung jawab yang diemban setiap kader di mana pun dan kapan pun.
Das sein dan das sollen—meminjam bahasa sosiologi—seringkali beriringan secara paralel; tanpa titik potong. Namun perjuangan tidak berhenti sampai hari ini, apalagi HMI dilahirkan untuk menjawab realitas yang tidak sesuai dengan idealitas zaman untuk waktu yang tidak terbatas. Beberapa pertanyaan besar memang harus dijawab HMI bagi kepentingan kontinuitas gerak organisasi. Hanya ada satu keyakinan bahwa HMI tidak pernah mati. Sakit, sekarat, dan kemudian bangkit lagi menjadi dinamika dari sebuah kehidupan. Meskipun HMI tidak pernah mati, kualitas hidupnya hari ini dan esok merupakan tanggung jawab yang diemban setiap kader di mana pun dan kapan pun.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan komentar